About : "Others 2"
Hey,there. Aku lagi.
Kenapa lagi nih, galau? Hehe. Maaf ya, aku. Kadang kepalaku juga ngerasa gitu. Apakah aku punya hati yang terlalu rapuh dan kurang bisa mempertimbangkan dengan baik atau membuat keputusan yang paling tepat hingga aku banyak menulis dan mempertanyakan segala hal.
Tapi ngga tahu kenapa aku rasanya sekarang seperti bisa sedikit lebih bernapas lega mengingat ternyata yang sedang aku lakukan ini bukan suatu hal yang percuma. Kenggajelasan hatiku, kengga-mood-an diriku, kelalaianku dalam banyak hal. Aku takut juga awalnya. Aku merasa segalanya runtuh karena aku ngga cukup baik dan ngga cukup berani. Tapi ternyata fase-fase seperti itu lah yang membuatku bisa memulai kembali. Walaupun kadang runtuh lagi, kali ini kerusakannya ngga separah dulu. Sedikit demi sedikit aku memperbaiki pondasi.
Aku begitu marah dengan diriku sendiri melihat diriku yang sekarang—seringkali. Aku membandingkannya dengan diriku dulu yang sangat fokus dengan apa yang aku mau, memperoleh banyak prestasi, pujian, dan seterusnya. Tapi setelahnya aku berpikir. Apa itu memang benar-benar untukku? Apa benar fokusku itu sesungguhnya karena aku mau? Karena aku punya tujuan yang jelas?
Sepertinya nggak. Aku yang dulu suka memperhatikan orang lebih dulu. Aku yang dulu merasa aku harus seperti ini seperti itu untuk bisa survive, menutupi kekuranganku, dan membuat orang sekitarku menyadari keberadaanku.
Kalau ditulis seperti ini rasanya hilarious banget, ya? Seperti seorang narcissist yang kurang banget perhatian, hehe. Tapi aku sekarang merasakan bahwa aku paling bisa jujur dengan diriku sendiri. Oh ternyata aku begini, ternyata aku begitu. Aku sedih karena ini, aku bahagia karena itu. Apa yang salah dalam diriku dan apa yang membuatku tersenyum—ngga cuma di wajah, tapi juga di hati.
Ngga ada orang yang benar-benar mengenal orang lain. Setiap waktu, hati dan kepala rasanya berisik, sesungguhnya. Yah, kecuali kalau sibuk dan capek. Dulu aku ngga suka capek karena rasanya hati dan kepala ngga bisa bekerja. Energiku udah teralihkan jadi rasanya kehilangan kontrol atas diriku sendiri.
Tapi aku yang sekarang, yang saat itu mulai belajar berenang, mulai nge-gym walau alat yang dipakai itu-itu aja, jadi lebih paham kenapa olahraga itu penting.
Eits kenapa jadi kesitu? Yah, pokoknya tulis dulu aja deh.
Bukan cuma untuk kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental. Saat olahraga aku jelas ngga berpikir dan ngga merasa seperti biasanya. Tapi dari situ aku merasa kedua bagian terpenting itu beristirahat, mendelegasikan seluruh tugasnya ke organ-organ tubuhku yang ngga bisa bicara. “Gantian ya, kalian istirahat dulu. Biar kami yang bekerja—supaya bisa menopang kalian lagi kalau andai kata suatu hari akan bertengkar lagi—walaupun pasti”.
Dan menariknya, aku belajar itu di masa pandemi, hehe. Aku juga mencoba lagi melaraskan kata hati dan kepala. Kalian tu sama-sama penting elah, jangan gelud mulu dong.
Ternyata rasanya senyaman itu, ketika aku mencoba menyeimbangkan hal-hal yang dulu rasanya timpang satu sama lain. Ngga cuma perihal hati dan kepala, tapi juga beberapa kegiatan lain di real life. Saat aku memberi waktu untuk diriku, tapi juga memberi waktu bagi orang lain.
Balik ke topik di awal.
Aku yang dulu cuma sibuk dengan diri sendiri atas dasar perasaan negatif bagaimana orang lain akan menginterpretasikan segalanya. Tapi sekarang aku mencoba lebih fokus pada diriku dan orang lain—mempersempit list juga ternyata, mana dari mereka yang saat itu begitu mengharapkan kebaikan bagiku—dalam suatu perasaan positif yang mana “aku ingin lebih baik”,“aku ingin mereka nyaman ada di deketku”, bukan “aku ngga ingin menjadi seseorang yang gagal atau buruk” atau “aku ngga ingin mereka benci aku”. See the difference?
Aku belajar itu dari buku How to Respect Myself juga. Ternyata iya kalau fokus kita ke hal-hal positif, aku jadi lebih sehat dan happy.
Cuma satu lagi yang ingin aku katakan. Mempersempit listku tadi untuk orang yang benar-benar mengharapkan kebaikan bagiku, bukan berarti aku menutup pintu untuk mereka yang atas standar dan asumsi pribadiku orang yang ngga tulus atau ngga peduli padaku. Tapi energiku ngga sebanyak itu untuk memikirkan semuanya, and so do others. Cuma sungguh, aku belajar dan berdoa setiap hari itu untuk bisa lebih bermanfaat bagi banyak orang. Untuk bisa fokus ke lebih banyak orang. Aku ingin mengumpulkan energi dan memperkuat pondasi dulu untuk bisa memperlebar list-ku itu.
Karena aku percaya sih, sesungguhnya manusia itu bisa hidup damai dengan saling membantu. Kalau masalah teman nongkrong atau bukan, seberapa banyak SG kita dengan mereka atau hal-hal yang sifatnya fisik saja, menurutku itu lebih pada kita cocok atau ngga. Saat kita ada di waktu yang tepat, tempat yang sama, dan emosi yang selaras atau ngga.
Karena ngga semua manusia bisa cocok satu sama lain. Dan kita sebagai manusia juga punya limit sehingga secara ngga sadar dibuatlah prioritas-prioritas tertentu. Gambarannya bisa dilihat di drama korea Yumi Cells!
Tapi sungguh, walaupun kita ngga cocok, kepribadian kita sangat berbeda, hal yang kita sukai berbeda, di saat yang sama kita bisa menghargai satu sama lain. Kita bisa dengan tulus mengatakan maaf dan tulus juga mengatakan ngga apa-apa.
Kalau-kalau ada waktu seseorang memilih untuk menghindari kita, ya karena merasa kurang cocok saja. Bukan berarti kita adalah suatu kesalahan besar yang membuat kita perlu berdiam diri terlalu memikirkan sebelah mana kita salahnya.
Aku tau kita semua sudah cukup berusaha. But we can’t please everyone, itu baru-baru ini aku sadari juga. Aku harap jika ada seseorang juga yang merasa aku ngga cocok kalau dengannya padahal dia merasakan sebaliknya, bukan berarti aku membencinya (Sungguh, membenci itu perasaan paling disturbing yang pernah ada). Tapi kita kurang cocok aja di saat itu.
Tentu bisa berubah ataupun.. tetap kayak gitu di masa depan. Tapi inget kalo lagi-lagi, Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan.
I hope you understand and able to feel what I really mean which of course a good thing. Karena nulis ini ada di saat yang ternyaman dan terileks. Tugas selesai, tanggung jawab tinggal acara farewell, sholat Isya di awal waktu, playing songs in my fav playlist, dan tentunya ketika aku fokus memikirkan aku juga orang lain dengan pikiran positif.
Untuk semua orang yang hingga detik ini masih diberi kesempatan oleh Tuhan menjadi lebih baik.
Let’s have more inner peace in ourselves, try to understand, and make it better one step at a time.
Sincerely, aku.
Comments
Post a Comment