About : “Perfectionism and Hatred”

Beberapa waktu ke belakang, aku nulis juga, tapi belum sampai selesai, aku hapus karena ngerasa tulisanku ngga cukup bagus, kurang faedahnya, dan sebagainya. Padahal dari dulu aku suka nulis. Ada juga orang yang baca dan ngerasa dapat manfaat dari itu. Tapi kenapa sering banget kayanya kena impostor syndrome?

Walaupun udah lebih bisa mengatasi itu beberapa tahun terakhir, setelah baca beberapa part di buku The Gift of Imperfection karya Brene Brown, aku jadi tau kalau itu semua ada hubungannya sama sifat perfeksionisku yang aku kira sama kayak “melakukan yang terbaik” tapi ternyata ngga.

Jujur aku ngga semental baja itu menghadapi respons negatif, konfrontasi, dan hal-hal semacamnya. Jadi aku terbiasa main aman dan mencoba melakukan segala sesuatu dengan “sempurna” (versiku) untuk melindungi diriku sendiri yang rentan. Dan sebagaimana yang kita tau bahwa ngga ada hal yang benar-benar sempurna, menghindari semua negativisme dari luar sangatlah ngga mungkin.

Kalau dari risetnya Brene Brown, salah satu penyebab perfeksionisme ngga sehat itu adalah karena seseorang tumbuh dengan pujian terus menerus sehingga tanpa sadar merasa kepuasannya datang dari luar dirinya, dari bagaimana orang merespons pencapaiannya. Kalau dilihat ini juga berkaitan sama riset di buku Self Theory-nya Carol S. Dweck tentang bagaimana anak-anak yang terbiasa dipuji tanpa diberi tahu dimana space yang bisa dia kembangkan akan punya ketakutan untuk melakukan kesalahan dan cenderung mudah menyerah ketika menemui kesulitan.

Di kasusku yang kurang lebih tumbuh di lingkungan kaya gitu, kedua riset itu valid.

Perfeksionisme itu udah ada dalam diriku sejak dulu dan mungkin mulai kusadari waktu SMA tapi belum sadar jelas gimana mengatasinya. Sebelum remaja kecemasanku mungkin terkait akademik doang tapi lama kelamaan juga tentang social life. Orang-orang yang jadi sumber kecemasan terkait respons mereka juga makin beragam seiring makin banyak orang yang dikenal.

Karena perfeksionisme itu juga, aku kesulitan jadi diriku yang autentik,  merasa harus selalu menyesuaikan untuk bisa diterima. Kemudian citra diri itu yang mungkin membuat orang lain secara ngga langsung punya ekspektasi tertentu terhadapku. Dalam prosesnya, aku pun mulai berpikir bahwa untuk bisa jadi bagian dari sesuatu dan disukai orang lain, aku perlu mencapai standar tertentu dari segi tertentu. That's why aku cukup kesulitan buat terbuka ke orang lain dan punya relasi yang jujur.

Walaupun begitu, aku bersyukur punya beberapa orang yang membuatku nyaman jadi diriku sendiri waktu sama mereka. Sekarang, ketika aku udah sadar betul dengan perfeksionismeku yang berlebihan itu, aku bertekad buat bisa lebih jujur ke orang lain. Jadi diriku apa adanya tanpa menutup diri untuk jadi lebih baik. Dengan begitu aku sepertinya bisa lebih legowo dalam menerima kritikan, punya relasi yang lebih kuat, atau sebaliknya, ketika memang ada orang yang ngga cocok denganku, aku ngga merasa sangat buruk.

___

Anyway, terkait dengan relasi, makin dewasa aku merasa bahwa manusia itu ngga harus cocok dengan siapa aja karena tentunya tiap orang punya pemikiran, latar belakang, dan keadaan yang berbeda-beda. Misalnya nih ada orang yang menyindir orang dengan kelas sosial tertentu seperti cenderung cuma berteman dengan mereka yang kelas sosialnya sama. Aku pribadi ngga lantas menyalahkannya karena di balik itu mungkin ada alasan tertentu seperti perasaan nyaman karena lifestyle-nya sama, obrolannya nyambung, lebih sering ketemu karena tempat-tempat yang dikunjungi sama, dsb.

Cuma yang perlu disadari adalah ngga buruk juga memberi kesempatan buat orang lain dan mau membuka diri. Karena toh dengan berteman dengan berbagai orang bisa memperluas perspektif kita juga. Tapi apakah harus selalu “clicked” dan tiap orang punya depth of relationship yang sama dengan kita? Ngga juga. Menurutku, yang penting ngga benci aja dan saling respect.

Kenapa biar ngga benci? Karena perasaan benci itu salah satu perasaan paling ngga enak. Ya ngga sih? Aku pernah juga benci ke seseorang karena perlakuannya ke aku. Tapi energiku jadi terkuras buat selalu mikirin tingkahnya yang nyebelin. Selain itu, aku rada ngeri lihat banyak orang di sosmed yang terlalu bangga jadi haters-nya orang lain, komentar dengan kalimat-kalimat yang ngga manusiawi, dan bahkan terang-terangan mengancam mau berbuat jahat di real life. Ada juga orang yang sakit hati dan sampai ngebunuh orang terdekatnya sendiri. Semua karena apa? Karena perasaan benci yang berlebihan.

Jadi aku coba ngembangin rumus sendiri sekarang buat ngga gampang benci ke orang lain. Ini dia listnya

  1. Komunikasi adalah kunci, saling memahami. Kalau udah tapi tetap ngga ada yang berubah? Atau ngerasa ngga enak ngomongnya karena dianya pasif-agresif? 
  2. Mungkin alasan dia berbuat kaya gitu karena kesalahan kita juga. Refleksi coba. Hmm, kalau kayanya ngga dan kita udah berusaha jadi baik? 
  3. Benci perilakunya, bukan personalnya. Kalau masih susah? 
  4. Inget kebaikannya lebih besar daripada keburukannya. Kalau orang itu bikin kita emosi terus menerus dan hampir ngga ada baiknya ke kita?
  5. Lihat bahwa setidaknya dia pernah baik sama orang lain. Pun kalaupun bukan bagi kita, dia pasti berharga buat seseorang. Kalau masih ga bisa dan terlalu sakit buat ingat dia?
  6. Kita punya pilihan buat ngga interaksi sama orang itu dan cukup pasang boundaries

Mungkin dengan begitu kita bisa ngga gampang benci dan berbuat jahat ke orang lain. Gampang sih teorinya. Aku juga jelas masih susah nerapin itu. Cuma ngga ada salahnya belajar, biar hidup lebih damai dan energi kita bisa diarahin ke hal-hal yang lebih bermanfaat. Cheers😊

Comments

Popular posts from this blog

About : "Love"

About : "Others 2"