About : "Sibling"


Yang aku tahu, dalam agamaku, sesama muslim itu adalah saudara.

Dan sesama manusia itu adalah saudara dalam kemanusiaan.

Kita tak seharusnya merasa sendirian karena sejatinya kita selalu dikelilingi oleh saudara kita.

Tapi kenyataannya kita terkadang merasa asing pada lingkungan baru. Tidak setiap orang juga peduli dengan orang lain.  Semua memiliki urusannya masing-masing. Aku juga seperti itu.

Lalu?

Bagaimana dengan seseorang yang tumbuh bersama sejak kecil, berbagi makanan, bermain bersama, dan berasal dari darah daging yang sama? Kupikir itulah saudara sebenarnya, dalam segala hal.

Kami—saudara kandung—diajarkan untuk berbagi, tak boleh iri, saling menyayangi, saling membantu, dan selalu menjaga tali persaudaraan kami yang telah terikat sejak kecil.

Aku sendiri adalah adik dengan seorang kakak perempuan. Kami sering bertengkar, layaknya kakak-beradik pada umumnya. Seringkali kami juga terlibat perang dingin walau pada akhirnya tak ada pemenang sah-nya. Dulu aku berpikir bahwa yang pertama kali meminta maaf artinya ia kalah. Maka sebagai adik aku akan lebih sering menjadi pemenang :v

Suatu hari aku mendengar pembicaraan kakakku dengan Ibu. Ia bilang kenapa seorang kakak harus selalu mengalah? Itu sangat tidak adil setiap Bapak dan Ibu memintanya untuk menjadi orang pertama yang minta maaf ketika dia dan aku bertengkar. Aku hanya tertawa saja dalam hati saat itu dan membatin, “Salah sendiri kau lahir duluan”

Kemudian aku membuat suatu kesalahan yang berimbas pada hubungannya dengan teman-teman di sekolah lamanya. Saat itu umurku 11 tahun. Kakakku menangis dan marah padaku. Aku pikir itu berlebihan karena aku hanya bercanda. Ia membangun dinding yang tinggi di antara kami. Tak seperti pertengkaran-pertengkaran biasanya. Aku heran. Aku tidak merasa bercandaanku keterlaluan. Aku juga terlalu gengsi untuk minta maaf.

Pada akhirnya pertengkaran kami selesai setelah Bapak meminta kakakku untuk bercerita. Giliran aku sekarang yang benar-benar dimarahi. Aku menangis tentu saja. Tapi aku tak begitu paham dengan cerita kakakku yang bergantian dengan isak tangisnya. Aku berpikir, “kenapa masalahnya di sekolah seperti besar sekali?”

Setelah kejadian itu hubungan kami menjadi kembali seperti biasanya. Aku tidak membahas lagi tentang masalah kami sebelumnya.  Tak lama kemudian di kelas 5 SD aku mendapat masalah di sekolah baruku. Sahabat baikku tiba-tiba menjauhiku dan melontarkan kata-kata buruk di belakangku. Entah sebabnya karena apa, tapi karena masalah itu aku menjadi lemah. Aku menjadi lebih banyak diam dan jarang keluar kelas saat istirahat. Aku memilih untuk membawa bekal dan di tahun itu, aku jadi anak yang suka membolos. Aku sering beralasan pada ibu kalau aku tidak enak badan.

Aku memendam perasaan benci dan marah walaupun aku tak bisa berbuat apa-apa. Sepulang sekolah aku akan menangis diam-diam di kamar. Itu benar-benar hal yang kurasakan. Lalu pada suatu malam, aku dan kakakku—yang memang tidur sekamar—tidak mengantuk walaupun sudah larut malam. Aku mulai bercerita tanpa diminta. Aku sedikit tidak percaya ketika respon kakakku bagus. Ia memberiku nasihat dengan mata berbinar—menguatkanku. Ia mengatakan bahwa kita tidak bisa mengharapkan semua orang untuk bisa menyukai kita. Terlalu memikirkan segelintir orang yang membenci kita malah akan menyusahkan diri sendiri.

“Tapi aku akan terus sendirian,” kataku.

Dia bertanya padaku, apa aku yakin. Aku mengangguk.

“Kau tidak sendiri. Kau punya keluarga”

                                                            .........................................

Sejak saat itu aku mulai menjadi seseorang yang cuek, tak ambil pusing dengan sikap teman-temanku. Jika aku ingin membeli makanan saat istirahat, aku akan pergi sendiri. Aku juga aktif di kelas dan guru-guru menyukaiku. Aku mengenal adik kelas atau teman dari SD sebelah. Tak lama kemudian aku mulai disukai dan diperlakukan dengan baik.

Aku berhasil melewati masa-masa sulit itu.

Dua tahun kemudian aku menjadi seorang anak SMP. Aku memiliki teman-teman yang baik dan semua lancar-lancar saja.

Suatu malam aku dan kakakku tidak mengantuk lagi—seperti malam di tiga tahun sebelumnya. Kini giliran dia yang bercerita tanpa diminta. Ia menceritakan masa-masa SMP-nya dulu. Aku mendengarkan dengan seksama. Ternyata dia pernah dimusuhi teman sekelasnya sampai-sampai ia pernah tak mendapat teman sekelompok untuk suatu tugas. Semua bermula ketika ia dekat dengan anak laki-laki di kelasnya. Ia merasa anak laki-laki itu cocok dijadikan sahabat. Itu saja niatnya (atau mungkin itu hanya pembelaan di depanku saja, hehe). Tapi anak-anak perempuan tak menyukai itu dan memusuhinya. Mereka sering memandangnya aneh, berbisik-bisik, atau bahkan mengucapkan perkataan yang menyakiti hati. Anak laki-laki yang dekat dengannya pun lama-lama menjauhinya.

Aku sudah cukup tahu tentang bullying di berita televisi. Tak kusangka kakakku sendiri mengalaminya dan kurasa itu cukup buruk. Kakakku lalu berkata padaku kalau ia khawatir padaku jika aku mengalami hal serupa. Menurutnya aku orang yang lebih lemah, tak setegar dirinya. Aku tak terima dan kami bertengkar  sepuluh menit setelahnya, walau itu cuma bercanda :v Next. Jujur aku sedih mendengar ceritanya. Dulu aku masih terlalu kecil sehingga tak mungkin ia akan bercerita padaku. Bapak dan Ibu juga cukup sibuk sehingga kurang memperhatikan hal-hal seperti itu. Tapi dalam waktu yang sama aku lega. Aku merasa dipercaya.

                 .......................................

Sekarang aku tidak gengsi lagi untuk minta maaf lebih dulu, hahaha. Kami jadi lebih sering mengobrol, tidak hanya mengenai masalah kami masing-masing. Kami berbagi apa yang kami pelajari, saling mengingatkan, dan saling mendukung.

Kini aku punya alasan untuk merasa sedih pada setiap lukanya, tersenyum pada setiap kebahagiannya, dan tertawa untuk kenangan-kenangan di masa kecil kami berdua. Karena kami adalah saudara, dalam segala hal. Itu faktanya :)





"Kita tidak bisa menghancurkan hubungan keluarga: 
terkadang rantai kita agak teregang, tetapi tidak pernah patah"

-MARIE DE RABUTIN-CHANTAL, MARQUISE DE SEVIGNE-
dalam Chicken Soup for The Soul : Kekuatan Memaafkan

Comments

Popular posts from this blog

About : "Love"

About : “Perfectionism and Hatred”

About : "Others 2"