About : "Contribution"



Kalau ingin memberi kontribusi yang besar, baik untuk lingkungan sekitar, agama, negara, atau bahkan dunia, tentunya harus punya pijakan yang kuat dan kokoh. Makin berat bebannya, seharusnya makin kuat pula penopangnya.

Dulu begitu pikirku.


Namun sekarang aku paham kalau nggak semua orang mulai dari garis start yang sama, walau mungkin tujuannya sama, sama-sama ingin memberi kontribusi bagi sesama. Selain itu, tiap orang diletakkan di tempat yang berbeda. Kalaupun kebetulan ada yang sama, rute yang ditempuh akhirnya akan memisahkan lagi. Membuatmu sendiri. 


Kemudian, tidak serta merta kamu melangkah dengan tekad kuat maka pijakannya akan lagsung kuat. Bagaimana kalau belum apa-apa di depan sudah ada lumpur penghisap? Beruntung lah orang yang nggak dapat itu, Tapi memangnya, kamu bisa memilih dari awal? Menurutku, sukses mempertahankan niat dan semangat untuk tidak menyerah saja sudah hebat.

...


Bagus untuk punya rencana daripada duduk diam menunggu momentum di depan mata. Yah, minimal tahu langkah apa selanjutnya yang bisa diambil. Tapi kuberi tahu satu hal. Bukan berarti semua bisa berjalan sesuai keinginan. Plan B, C, D sampai Z-mu itu belum jelas bagaimana berguna atau tidaknya nanti.


Hanya saja percayalah niat baik adalah bagian dari usaha. Entah ada atau tidaknya kesempatan, setidaknya sudah melayangkan doa. Ada atau tidaknya kontribusi yang terasa, setidaknya pernah hadir jadi bagian dunia.


...

Tapi,


...

Sebenarnya siapa yang tahu--seseorang walaupun kecil keberadaannya--membantu dunia ini bekerja. Kalau tidak ada kamu, mungkin ceritanya akan beda. Kesetiaan suatu pasangan di kala itu mungkin terkikis jika kamu tidak lahir di dunia. Canda tawa dari room-chat buatanmu itu mungkin tak pernah ada jika kamu barang semenit memutuskan pindah ke lain kota. Bapak petani yang kautemui tiap sore mungkin tak sempat tersenyum jika saja kau tak lewat untuk menyapa.



Semua orang dalam benaknya berebut untuk punya kontribusi bagi dunia. 


Siapa yang menunjuk siapa. Selama masih ada rasa kemanusiaan dalam hati kuyakin tiap manusia merasa sedih melihat kekejaman di berita. Seandainya punya kekuatan pastinya tak ingin hanya berpangku tangan saja. Sayangnya, apa yang bisa dikata?


Kekuatan apa sebenarnya yg harus dipunya untuk membebaskan Palestina? menghentikan kelaparan di Afrika? membebaskan tahanan tak bersalah di penjara? Orang nomor satu di dunia pun--seandainya ada--tak akan semudah itu melawan sistem dunia. Karena terlalu banyak kepala di dalamnya. Seseorang berbuat baik, yang lain berbuat jahat. Seseorang memperbaiki, yang lain merusak. Teruslah seperti itu kalau cuma mengandalkan kekuatan manusia.


Lalu kontribusi apa yg sebenarnya mudah dan impactnya luar biasa?




Doa.


By : Aku, yang sedang banyak mengandalkan doa

Nb : Tulisan di atas pertama kali kuketik di note HP, lalu ku-share di story whatsapp. Untuk yang sudah mengirimkan komentar-komentar baiknya, terima kasih. Karena kalian keinginanku menulis timbul lagi



///


Entah kenapa pengen buat konklusi dari tulisan di atas, hehe. Atau jatuhnya mungkin lebih ke alasan tulisan di atas tercipta.

Jadi, saat itu aku sedang benar-benar sedih melihat keadaan dunia dan keadaanku sendiri. Aku ingin berperan serta. Tapi sepertinya rencana yang kususun matang tidak semudah itu kuwujudkan. Belum lagi saat itu aku melihat postingan di instagram, dimana rasanya orang lain berbuat banyak, sedangkan aku mungkin hanya bisa berbuat seujung kuku. Rasa sedih itu bertambah dan memuncak ketika ada narasi tentang "kontribusi". Rasanya seperti meneriakkan kita untuk berdiri saat itu juga. Memotivasi, iya, pastinya. Namun sepertinya ada poin yang ingin aku bagikan di saat aku membaca tulisan itu. Sebenarnya tidak semua orang merasakan hal ini. Tapi mungkin saja ada di luar sana yang sepertiku. Sedang merasa tak berdaya, tapi melihat orang lain begitu hebatnya memberikan kontribusi malah membuat kita makin jauh untuk menggapai tujuan kita. Dengan kata lain, "iri".

Maka dari itu muncullah kalimat "siapa yang menunjuk siapa" dalam tulisanku. Aku merasa seolah-olah narasi itu mengatakan kita sama sekali tak acuh dalam peliknya masalah dunia. Kita harusnya bisa lebih berkontribusi lagi. Aku tak menunjukkan bahwa si penulis berniat seperti itu. Ia hanya ingin memacu semangat kita. Namun, mungkin ada sedikit yang tertinggal, yaitu untuk mengatakan bahwa walaupun kita tidak sehebat narasumber itu, kita tetap bisa berjuang dengan cara kita sendiri. Walau kecil, tapi lama kelamaan akan menjadi sesuatu yang berarti.

Itu saja sih, hehe. Karena aku yakin manusia itu sejatinya tidak ignorant. Ada banyak orang yang ingin menolong sesama, tapi menolong diri sendiri tiap harinya pun sulit. Lantas apakah harus disalahkan karena sejak awal orang itu tidak berusaha lebih? Ya, itu tadi, setiap orang punya jalan ceritanya masing-masing, punya rintangannya masing-masing. 

Intinya jangan merasa kecil ketika orang lain punya kontribusi yang begitu besar untuk dunia. Iri dalam kebaikan bagus untuk jadi pemacu kita, tapi bukan lantas membuat kita merasa seperti butiran debu.Jadi, kalau merasa benar-benar berat, berdoa saja. Lagipula, manusia juga tidak mampu berbuat apa-apa tanpa seizin-Nya. 

Comments

Popular posts from this blog

About : "Love"

About : “Perfectionism and Hatred”

About : "Others 2"