About : "Being Expressive"

     Hola! It’s already 2021. Melihat orang lain mencoba untuk review tahun 2020, aku jadi ke-trigger untuk melakukannya juga. Tapi mungkin tulisan ini khusus tentang satu progress yang menurut aku impactful. Dan itu adalah menjadi lebih ekspresif atau seseorang yang lebih nggak “pemalu”.

    Sebenarnya kalau diingat-ingat lagi, nggak ada teori apapun yang melatarbelakangi keinginanku buat jadi lebih ekspresif. Tapi lebih karena aku coba ninjau ulang masalah-masalah yang aku hadapi. Baik itu ke diriku sendiri, teman, orang tua,dll. Kemudian yang bisa aku simpulin, banyak masalah terjadi karena faktor utamanya adalah komunikasi atau tepatnya ketidakmampuanku untuk mengekspresikan emosi, baik itu positif maupun negatif.

    Ada sebenarnya satu konsep yang baru aku denger juga tahun ini dari videonya kak Gitasav soal “toxic positivity”. Tapi ada beberapa hal yang menurutku pribadi nggak cocok karena aku merasa  harus ada batasan-batasan tertentu dalam mengekspresikan emosi negatif. Pun menurutku mengelola emosi itu penting, nggak semata-mata langsung dikeluarin aja asal kita lega. Jadi ya aku coba untuk cari hal yang kira-kira tepat buatku.

    Yang pertama mungkin adalah emosi negatif. TBH, aku orang yang cukup tertutup, jarang curhat ke orang lain, dan apa-apa dipendam. Walaupun pada akhirnya aku bisa meredam emosi itu, aku lama-lama sadar kalau aku nggak berusaha menunjukkannya, itu akan jadi sebuah loop yang nggak ada habisnya. Masalah yang sama bakal terulang lagi tanpa adanya komunikasi. Nah, kita mungkin sering merasa kayak “kenapa ya, nggak ada yang bisa memahami perasaan kita?”. Ya, yang aku sadari—kebanyakan adalah karena kita sendiri nggak mencoba untuk menjelaskan ke orang lain. Bahkan orang terdekat kita sekalipun belum tentu memahami kita, orang tua misalnya. Nggak serta merta juga orang yang interaksinya intens dengan kita bakal paham kondisi perasaan kita.

    Namun yang perlu dicatat juga, aku sendiri mengungkapkan emosi negatif diawali dengan ngelola emosi itu sendiri dulu. Karena apa-apa yang spontan diungkapin karena marah biasanya hal-hal buruk dan tentunya kita nggak mau malah nambah masalah. Jadi sebenernya sama, emosinya diredam dulu, nunggu adem dulu, baru disampaikan. Cuma aku percaya, ada suatu kondisi dimana kita harus nunjukin emosi itu, walaupun balik lagi. Jangan spontan. Tenangin diri dulu.

    Misalnya, setelah kita tenang, kita sampaikan, dan setelah disampaikan hasilnya si orang yang kita ajak bicara nggak bisa mengerti atau malah nggak menghargai, baru deh kita ekspresikan emosi kita ke level yang lebih tinggi. Mungkin itu sih yang aku coba praktikkan tahun ini. Dampak positifnya tentunya masalah yang sama nggak terulang lagi dan memperkuat hubungan juga.

    Selanjutnya adalah emosi positif. Emosi positif misalnya rasa suka, kagum, takjub, bahagia, dan apapun itu you name it wkwk. Intinya, dengan lebih banyak mengatakan itu, aku merasa lebih banyak dampak positif, baik ke diri sendiri ataupun hubungan dengan orang lain. Hal yang paling aku sadari sih, memuji orang lain atau menunjukkan kekaguman kita, nggak lantas menunjukkan kita di bawah mereka. Mungkin dulu aku juga ngerasa gengsi. Tapi tau nggak sih, satu pujian atau feedback positif yang kita kasih ke orang lain itu bisa berpengaruh banget untuk orang itu? Ya, kita sendiri juga kalau usaha/kelebihannya dinotice juga bakal senang, kan? For disclaimer, aku bukan nyuruh yang baca untuk habis itu muji-muji aku wkwk. Tapi ini adalah bagaimana aku ngelakuin hal itu di tahun ini.

    Sebenarnya hal yang memotivasi aku untuk ngelakuin itu juga salah satunya karena aku ngerasa banyak banget orang yang nggak percaya sama dirinya sendiri (termasuk aku sih wkwk). Padahal, setelah dipikir-pikir, manusia itu lebih dari apa yang mereka yakini. Pernah nggak sih, ngerasa mustahil melakukan sesuatu, but you did it at the end? Pasti pernah. Nah, maka dari itu aku yakin sebenarnya semua dimulai dari kekuatan pikiran kita sendiri. Mindset lah yang membentuk diri kita seperti apa.

    Tapi aku tau nggak semudah itu buat pede. Bahkan aku sampai pernah bikin secreto biar orang lain ngasih semangat wkwk. Dalam hati sih intinya gitu wkwk. Tapi ada satu yang paling membekas kalo nggak salah intinya, “nggak apa-apa sesekali untuk ngerasa kurang pede. Tapi inget juga kalau kamu punya value”. That’s it. Semua orang punya value.

    Selanjutnya, mungkin rasa hype terhadap sesuatu seperti barang, aktivitas, konten, atau apapun itu yang benda mati. Well, ada beberapa pertimbangan sih sebelum mengekspresikan perasaan itu. Tapi yang utama tentunya karena bisa jadi menyinggung orang lain. Aku sih merasa segala hal yang berdampak buruk ke orang lain itu tidak bisa dibenarkan (misal nyinggung fisik tau SARA). Tapi tentunya ada hal-hal yang diluar kontrol kita, seperti insecurity orang lain.

    Aku termasuk orang yang nggak begitu terpengaruh dengan hal-hal yang orang lain anggap “ perilaku sombong”. As long as nggak merendahkan aku, kayaknya selama ini aku biasa-biasa aja. Karena yang aku pahami, kita nggak tahu niat orang seperti apa. Apakah dia ingin pamer atau memang karena ingin berbagi kebahagiaan atau bahkan memberi informasi?  Entahlah. Karena kadang aku juga merasa ada di posisi yang sama. Suka banget sama sesuatu sampai pengen ngeshare itu ke orang lain. Ayolah, pasti kita semua pernah.

    Cuma perlu diingat lagi, perasaan positif itu bisa jadi boomerang kalau kita nggak address dengan baik. Jadi di 2020 aku mulai memilah mana yang bisa aku share di story, apakah kira-kira bikin orang lain merasa buruk atau adakah manfaatnya untuk dilihat orang lain. Kalau nantinya aku lupa, boleh banget diingetin:)

    Ya, semua orang punya perspektifnya masing-masing. Tapi yakini aja apa yang kamu lakukan baik untuk dirimu sendiri dan kalau bisa untuk orang lain dengan tidak mengesampingkan prinsip-prinsip yang kamu pegang.

Cheers! Semangat menjalani 2021!  Semoga tulisan random ini bermanfaat.

 

Comments

Popular posts from this blog

About : "Love"

About : “Perfectionism and Hatred”

About : "Others 2"