About : "Others"

Halo! Udah lama banget ga nuliss. So, let’s just jump into it!

Pandemi  tu bener-bener luar biasa impactnya. Tau lah, semua aspek yang jadi urgensi semua negara sekarang. But not gonna lie, awalnya aku ga berpikir bakal ngefek seserius itu ke kehidupanku pribadi. Pertama, karena kalo dari segi kesehatan, aku dan keluargaku cukup punya akses untuk cari informasi yang reliable atau kebutuhan protokol. Kedua, untuk pendidikan, aku juga ngerasa ga bakal terlalu kesusahan karena  aku tergolong orang yang lebih paham kalau belajar sendiri. Bukan autodidak sih, lebih yang kayak sendiri literally, ga sama orang lain kalau untuk materi-materi tertentu yang sangat butuh muter otak. Terus juga dari aspek ekonomi, insyaAllah aku mikirnya masih bakal baik-baik aja—walaupun keluargaku bukan sesultan artis-artis youtube—karena ya, selain percaya sama  rezeki yang pasti Allah kasih, aku percaya sama tulang punggung keluargaku, bapak, tipe orang yang cepet beradaptasi dan percaya diri.

            But it turned to be something I’ve never expected. Aku ngerasain rasa panik dan sedihnya waktu tau anggota keluarga positif Covid bahkan sampai ada yang meninggal, efek finansial di keluarga, ga bisa ketemu temen, dan lain-lain. Terrible, yep. But luckily, beside many whys I’ve questioned to Allah, it lead me to self reflection as well.

Tapi karena terlalu banyak, let’s just talk about one thing, kuliah online, yang bakal nyangkut ke hal2 lain

Kuliah online membawa banyak pengaruh buat diriku. Ada positifnya dan ada negatifnya. Aku sampe pernah curhat soal ini di whatsapp story saking banyaknya pertanyaan di kepalaku, “ada ga sih orang yang gini juga? Apa cuma aku aja?” Dan ternyata beberapa orang merasa kayak gitu. Walaupun ga banyak, sekitar 5/6 orang mungkin yang reply and share their thought, aku jadi tau kalau ada juga orang yang punya kekhawatiran-kekhawatiran selama sekolah atau kuliah online ini.  Selain masalah dalam pemahaman ilmunya, ada satu hal  yang menurutku patut buat dibicarakan. Soal citra diri. Interaksi secara virtual ini sangat membatasi. Perkenalan yang cuma sebatas ngobrol di zoom atau bahkan follow-followan akun medsos aja membuat kami terbebani  dengan citra diri.

Citra diri, persona, atau apalah itu, adalah sisi yang ingin kita tunjukkan ke orang lain, dan it’s  mostly positive. Aku dan 5/6 orang ini jadi banyak mikir, gimana ya kalau nantinya kami ga bisa memenuhi ekspektasi kenalan baru kami ini? Dan ditambah lagi ekspektasi itu kami sendiri yang buat selama interaksi online. Contoh, di forum seperti organisasi yang sekarang aku jalani. Aku dapet respons dari orang-orang bahwa cara aku berkomunikasi tu oke. Jago public speaking. Padahal, realitanya adalah karena kami ga ketemu langsung aku ngerasa jauh lebih pede.  Di zoom aku ga begitu ngeh sama reaksi spontan orang lain, kayak raut wajah, gestur, atau suara. Aku juga ga khawatir sama penampilan dan fisik karena zoom cuma kelihat setengah badan. Skin tone / texture juga ga kelihatan. Jadi ada perasaan bahwa ini tu bukan aku banget.

Mungkin untuk beberapa orang yang aware dan pinter hacking their brain justru ini bisa jadi kesempatan buat pushing themselves to the max. “Ok karena ini citra diriku, identitas yang udah melekat padaku, aku harus buktiin ke orang-orang kalau aku bisa even di real life and so on”. Tapi aku kayaknya belum sampai di level itu dan ga mau juga sih setelah dipikir-pikir. Daripada mikir contohnya jago public speaking tadi sebagai tanggung jawabku buat memenuhi ekspektasi orang lain nanti  saat offline, aku lebih ke belajar kalo oh iya ya komunikasi itu penting banget supaya orang tau jelas sebenernya apa ide kita. Jadi daripada menempatkan usahaku untuk orang lain, aku belajar menghargai value dari kemampuan yang aku dapatkan dari efek positif per-online-nan ini.

           Terus pikiran soal itu ngebawa aku juga buat mikir lebih jauh lagi. Kenapa ya rasanya aku terlau banyak mikirin apa yang dipikirin orang lain? Kenapa banyak juga keputusan dalam hidupku ini yang rasanya alasannya bukan karena aku sendiri ingin?

At the end, banyak dari hal itu pada akhirnya ngebuat aku gampang kecewa sama orang.  

I guess ini sebenernya ini lebih tentang mindset. Jujur aku belum bisa dan mungkin ga akan pernah bisa jadi manusia yang hidup tanpa ekspektasi dan ikhlas mengerjakan semua karena Allah. Semua orang juga pasti sama, right? Kita masih banyak menginginkan balasan dari  apa yang kita perbuat. Even kita juga kadang ngerjain sesuatu “ya udahlah gapapa, hitung-hitung dapet pahala” and I can’t see that as “ikhlas” yang dimaksud agama. Contoh simpel lainnya, aku senyum nih sama orang. Orangnya ga senyum balik. Itu aja udah nambah overthinking, ada masalah apa nih?

            Nah itu contoh simpelnya aja udah ngefek ke mood. Lalu gimana dengan keputusan-keputusan penting yang akan ngaruh ke hidup kita?

            Looking back, aku ini tumbuh bukan dengan semua yang udah serba based on research kayak di film-film. My life is a series of trial and error yang mana awalnya dulu aku pernah ngerasa hidupku udah paling ideal. Ya gimana ya, mainnya masih kurang jauh.

Kebetulan aku ini cocok sama ekspektasi society saat itu. Aku suka ilmu alam atau hitung-hitungan, suka baca buku, aktif juga di seni entah nyanyi, nari, gambar, dll. Pokoknya udah tipe-tipe anak tetangga yang suka dijadiin perbandingan deh. Tapi semua itu benang merahnya sebenernya karena aku memang suka nyoba suatu hal baru. Aku suka berkompetisi, seneng dipuji dan sebagainya (dulu). Jadinya ya aku oke oke aja ketika society mendikte idealnya seperti apa.

            Sampai suatu saat ketika itu udah jadi comfort zone-ku, aku mulai ngerasa kehilangan kapabilitas problem solving dan decision making. Aku mulai jadi orang yang simple minded (ini sampai aku udah mau masuk SMA). Ya udahlah nurut aja, toh aku bisa (aku ngerasa bisa pun karena people always say something like “Ah, kamu mah pasti bisa, yakin deh aku”). Tapi percayalah itu jadi ngebuatku sangat down ketika at the end aku menemukan suatu kesulitan. Aku belajar banyak hal dan merasa tertantang. Tapi ketika udah ngerasa ga bisa, aku cemas, nyerah, dan gampang nyalahin orang lain.

 Anyway, ini pengalamanku dan dari sedikit yang aku baca di buku Self Theories karya Carol Dweck, most student yang jadi subjek penelitian mereka, akan punya kecenderungan untuk lebih mudah menyerah ketika menemui suatu kesulitan kalau mereka terlalu banyak dapet kata-kata motivasi dari orang lain yang ga sesuai sama realita alias manipulative words. “Kamu itu sebenernya bisa kok, kamu jenius kok”, padahal kenyataannya mereka ga bisa.

            Again, ini beda untuk setiap orang. Tapi kalau aku ngelihat, untuk ukuran anak SMP kayak subjek penelitian itu dan aku dulu yang mungkin di masa-masanya labil dan susah  diajak diskusi sama orang lain, make sense sih kami jadi punya mindset ga sehat kayak gitu. Ya, hitung-hitung bisa buat pelajaran generasi selanjutnya.

            So, dari situ aku mikir lagi. Ternyata memang kalau kemandirian berpikir kita belum begitu terasah, efeknya bisa bahaya banget. Driven by society atau bahkan oleh lingkup kecil seperti keluarga, kalau kita belum bener-bener bisa ikhlas terhadap risiko buruk yang bisa aja  terjadi, kita bisa sampai nemuin titik dimana kita ngerasa kehilangan diri kita sendiri.

            Nyambung sama kuliah online dan citra diri tadi, tentunya aku mikir juga nih apa sih alasanku takut mengecewakan orang lain? Dan jawabannya ya karena takut dijauhi. Takut sendiri. Takut ga punya temen. Takut ngerasa don't belong to certain community. Jawaban dari google dan youtube pun sama. Manusia ga bisa hidup tanpa orang lain. Social skill itu penting. Ok I agree dude! I even crave for human interaction now!

            Cuma yang aku sadari lagi, sebutuh-butuhnya kita sama orang lain, yang paling bisa kita jadikan tempat bergantung itu tetep diri sendiri dulu. Orang lain ga bisa ngasih tau kita dari A-Z dos and don’ts dalam ngehadapin sesuatu. Bahkan untuk married couple sekalipun. (Hasil observasi ya ahahah). Contoh lain, ketika kita pengen minta tolong orang lain aja, kita mesti mikir dulu. Apakah iya orang ini mood-nya lagi baik untuk dicurhatin? Apa bener masalah ini kalau diomongin bukan malah jadi bumerang bagi kita? That’s why aku juga jadi mulai bisa mengatasi kekhawatiranku soal apa yang berhubungan sama orang lain. Daripada mikir berat-berat soal orang lain, memang sebaiknya benahi mindset dan fokus perbaiki diri sendiri dulu. Karena ada nih yang namanya spotlight effect, perasaan ketika kita ngerasa kita adalah tokoh utama, orang-orang selalu punya perhatian ke kita. Padahal in fact, people don’t really care.

Jadi seandainya ada juga yang ngerasa lagi sangat sendirian, tenang aja. Yang pertama kamu butuhin tu diri kamu sendiri kok :)

Comments

Popular posts from this blog

About : "Love"

About : “Perfectionism and Hatred”

About : "Others 2"