Brief Thoughts~
Halo, semoga dalam keadaan sehat selalu! Stay safe ya… karena baru2 ini sadar, badan yang sehat tu anugerah banget. Mau sekaya atau sepintar apapun kita kalau lagi nggak enak badan, nggak ada nikmat-nikmatnya euy :’(
Sebenarnya tergantung kita memaknai juga sih, kalau dalam Islam kan sakit tu tandanya Allah sedang mengangkat derajat kita atau menghapus dosa kita ya (ada di HR. Muslim). Tapi well, aku inget perkataan Viktor Frankl: walaupun penderitaan juga punya makna, selama penderitaan itu bisa dihindari, ya lebih baik dihindari. Right? Right? Hehe, toh Covid juga bahayanya nggak cuma buat kita doang. Kalau analoginya Gitasav, ibarat tugas kelompok! Kesalahan satu orang bisa pengaruh ke nilai semua orang :)
Anyways, aku nulis ini
tengah malem kurang dikit (23.40). Nggak ada hal khusus sih. Ini murni aku
nulis semauku karena lagi overthinking sama banyak hal. Enjoy! Aku bakal
berusaha untuk bikin tulisannya ngelink satu sama lain, nggak tiba-tiba jumping ke
topik baru wkwk.
Pertama sih, di sini
aku mau nyampain kekhawatiranku. Aku khawatir juga sebenarnya dengan naruh link
blog ini di bio instagram aku bakal diasumsiin sebagai seorang yang mungkin
rada weird. Tahulah, nggak banyak orang yang dengan terang-terangan ngungkapin pikirannya
apalagi sesuatu yang emosional. Terlebih karena di blog ini nggak ada yang
isinya bener-bener jelas bahas sesuatu, based on data, scientifically written/structured,
and so on. Walaupun ada beberapa juga yang aku search kebenarannya sebelum ditulis,
kayak hadits di atas. Tapi mostly, blog ini isinya lebih seperti diary.
Terus kenapa dishare?
Karena aku ngerasa orang-orang bisa aja dapet manfaat dari pengalamanku bahkan
yang bukan siapa-siapa ini. Kalaupun nggak? Nah, ini juga yang mau aku bahas.
Sebelum nulis ini, aku
baca buku judulnya Seni Tinggal di Bumi
karya Farah Qonita. Ada tulisan pendek di situ tentang perjuangan para ilmuwan
muslim di masa-masa Bani Abbasiyah. Aku nggak hafal nama-namanya, tapi please
mereka keren banget. Mereka bikin karya pada kondisi yang kalau dibayangin
sekarang seems very impossible. Nulis ratusan halaman pakai tangan seharian, (nulis
laprak kimia 5 halaman aja udah banyak ngeluh) fotocopy dengan nulis ulang
lagi, dan tentunya nggak ada internet hingga ratusan buku juga perlu dibuka dan
dibaca. Alasannya apa? Agar bisa bermanfaat bagi umat dan generasi selanjutnya.
Tapi yang lebih aku
sadari lagi, ketekunan ilmuwan-ilmuwan terdahulu itu juga didasari oleh suatu
eternitas yang jauh lebih tinggi, iman. Pengen bermanfaat bagi orang lain iya,
tapi lebih dari itu, mereka ngelakuinnya karena Allah.
Aku inget kata-kata
seseorang. Tugas Rasul aja cuma menyampaikan, apalagi kita manusia yang ilmunya
nggak seberapa. Sehebat apapun ilmuwan-ilmuwan itu, tetap aja kita perlu sadar
kalau Allah-lah yang menguasai ilmu di langit dan di bumi. Allah juga yang
mengendalikan takdir manusia. Mungkin bisa saja ilmuwan-ilmuwan muslim itu
berpikir manfaat dari karya mereka bisa dirasakan hingga berabad-abad
setelahnya. Tapi kenyataannya? Pasukan Mongol datang dan merusak karya-karya
mereka, melemparnya ke Sungai Tigris sampai
menghitam seluruh airnya.
Seandainya aku, mungkin
udah putus asa. Effort banyak, tapi malah sia-sia. Tapi kalau niatnya karena
Allah? Beda lagi. Aku berusaha, Allah yang menentukan. Aku menyampaikan, Allah yang
mengabadikannya di hati manusia yang dipilihnya. Sejatinya emang kita tu nggak
berkuasa atas orang lain yaJ
Itulah kenapa ayahku
selalu ngingetin untuk nggak gampang menyalah-nyalahkan orang lain. Ngingetin
boleh, tapi tau sikon, dan terutama, inget kalau Allah yang memberi hidayah.
Bukan kita. Tugas kita nunjukin jalan, bukan nuntun, apalagi narik.
So, pemikiran-pemikiran
itu ngebawa aku untuk semangat nulis lagi. Aku memang pengen jadi manusia yang
bermanfaat. Tapi kebahagiaanku nggak berpusat pada apa yang dirasakan orang
lain. Karena kalau begitu, mungkin aku akan selalu kecewa. “Udah capek-capek,
orang lain nggak peduli”. Ya, harusnya peduli Alhamdulillah, nggak juga nggak
apa-apa.
Anyways, mindset itu
rasanya dipegang juga sama Leonardo da Vinci, lho! Iya, sosok yang jenius itu
(ya walaupun mungkin dia nggak pakai Alhamdulillah, hehe) Seorang laki-laki
yang bisa banyak hal. Ngelukis Monalisa dengan memperhatikan detail otot-otot
yang membentuk senyumnya dan lukisan The Last Supper dengan teknik perspektif,
ngegambar struktur tubuh manusia laki-laki yang ideal (manusia Vitruvian), buat
rancangan pesawat terbang, dll. Tapi tahu nggak sih, waktu dia ditawari
pekerjaan sama seorang raja, di tengah popularitas dan karya-karyanya yang
fenomenal, dia cuma bilang “ya, sesekali saya menggambar, sesekali membedah
tubuh binatang” (Detailnya lupa, tapi intinya begitu). Keren nggak tuh? Wkwk.
Aku pikir karena dia ngelakuin itu karena kesenangannya plus pengen bermanfaat
juga (I don’t know, but that’s what I thought when I read his biography). Dia
ngelakuinnya secara maksimal tanpa
berpikir panjang. Orang bakal suka nggak ya? Ini beneran bisa bermanfaat
nggak ya? Intinya lakuin aja secara maksimal dan tetap rendah hati!
Nggak tahu juga ya. Aku
pikir orang kalau niatnya baik insyaAllah bakal dituntun juga ke jalan yang
baik. Seandainya kamu ambil contoh teroris, “ah mereka juga awalnya niatnya
baik tapi caranya salah”. I guess sebenarnya nggak. Niat mereka bukannya
didasari dengan kebencian terhadap orang yang menurut mereka berbeda? Menurutku
sih gitu. Kalau mereka sayang ke orang lain, justru mereka akan kasih
kesempatan bagi orang-orang yang dinilainya berbeda itu dan cari cara yang
lebih baik. But well, memang baiknya kalau bisa, niat dan proses itu
diselarasin sih. Toh kita juga manusia yang dibekali akal untuk cari tahu mana cara
yang paling baik.
So, Blog ini mungkin
bukan cara terbaik untuk aku nebar manfaat. Tapi saat ini, aku pikir ini
sesuatu yang bisa aku lakuin di masa pandemi. Tulisannya juga kubuat sebisa
mungkin ada manfaatnya. Yang jelas, tulisan-tulisan di sini menunjukkan
struktur berpikirku juga, caraku menghubungkan hal-hal yang aku temui dan alami
sebelumnya untuk pada akhirnya—problem solving.
Terus satu lagi. Aku
bukan tipe orang yang selalu serius dan berpikir kayak gini. I’m normal too
guys wkwk. Emang Najwa Shihab kalau nggak pas jadi host Mata Najwa nggak bisa
diajak bercanda? Hehe… Apalagi aku yang nggak ada apa-apanya. Pinter banget
enggak, receh iya :) Intinya gitu dehhh semoga bermanfaat,
see ya!
Comments
Post a Comment